anchoring effect
bagaimana angka pertama yang kita lihat membajak persepsi kita tentang harga saham
Pernahkah kita membuka aplikasi saham, melihat grafik sebuah emiten, dan tiba-tiba merasa menemukan harta karun? Saham ini lima tahun lalu harganya Rp 10.000 per lembar. Hari ini, harganya cuma tergeletak di angka Rp 2.000. Otak kita langsung berteriak kegirangan. "Diskon 80 persen!" pikir kita. Kita merasa sedang menjadi investor jenius yang menemukan celah pasar. Tanpa pikir panjang, kita memencet tombol beli. Namun, bulan berganti bulan, harga itu tidak pernah kembali ke Rp 10.000. Malah pelan-pelan merosot ke Rp 1.000. Kita pun duduk terdiam sambil memandangi portofolio yang memerah. Apa yang sebenarnya terjadi di kepala kita saat itu?
Kasus "nyangkut" di saham diskon tadi sebenarnya bukan karena kita kurang pintar membaca laporan keuangan. Ini murni soal bagaimana otak manusia secara alami memproses informasi. Mari kita mundur sejenak dari layar grafik saham. Bayangkan kita sedang menawar barang antik di pasar loak. Penjual membuka harga satu juta rupiah. Kita menawar lima ratus ribu, dan akhirnya sepakat di angka tujuh ratus ribu. Kita pulang dengan perasaan menang. Tapi tunggu dulu. Apakah barang itu benar-benar bernilai tujuh ratus ribu? Atau kita merasa menang hanya karena kita berhasil menurunkannya dari satu juta? Di sinilah sebuah celah kecil di otak kita mulai terlihat. Ada semacam glitch atau eror psikologis yang tertanam dalam DNA kita sejak ribuan tahun lalu. Sebuah eror yang diam-diam membuat kita sangat rentan dimanipulasi di pasar modal.
Untuk memahami glitch ini, mari kita berkenalan dengan dua psikolog legendaris peraih Nobel, Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Pada tahun 1974, mereka melakukan sebuah eksperimen yang sangat aneh namun brilian. Mereka memutar sebuah roda rolet di depan sekelompok partisipan. Roda itu sudah dicurangi agar selalu berhenti di angka 10 atau 65. Setelah roda berhenti, para partisipan ditanya sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya: "Berapa persentase negara-negara Afrika yang tergabung dalam PBB?" Hasilnya membuat dunia sains tercengang. Kelompok yang melihat angka 10 di rolet, rata-rata menjawab 25 persen. Sedangkan mereka yang melihat angka 65, rata-rata menjawab 45 persen. Angka acak dari roda rolet tadi secara gaib telah meretas logika mereka. Bagaimana mungkin sebuah angka yang tidak relevan bisa menyetir tebakan rasional seseorang? Dan yang lebih penting, apa hubungannya roda rolet ini dengan uang tabungan kita yang perlahan lenyap di bursa saham?
Jawabannya ada pada sebuah fenomena neurologis yang disebut sebagai anchoring effect atau efek jangkar. Saat otak kita dihadapkan pada ketidakpastian—seperti menebak jumlah negara Afrika atau menilai harga wajar sebuah saham—otak akan mati-matian mencari pegangan. Otak kita ini pada dasarnya hemat energi dan sering kali malas. Jadi, ia akan mengambil angka pertama yang ia lihat sebagai "jangkar" atau referensi utama. Dalam eksperimen Kahneman, jangkarnya adalah angka rolet. Dalam investasi kita, jangkarnya adalah harga tertinggi saham di masa lalu, atau harga saat Initial Public Offering (IPO). Saat kita melihat harga masa lalu yang fantastis, angka itu menancap kuat di pikiran kita dan membajak persepsi realitas kita. Harga Rp 2.000 hari ini terlihat sangat murah secara ilusi, padahal fundamental perusahaannya mungkin memang sudah hancur. Kita tidak membeli nilai perusahaan secara objektif, kita hanya sedang tertipu oleh ilusi angka pertama.
Saya rasa kita semua pernah terjebak dalam ilusi ini, dan jujur saja, itu sangat manusiawi. Otak kita memang didesain oleh evolusi untuk bertahan hidup di alam liar dengan mengambil keputusan cepat, bukan untuk menganalisis rasio Price to Earnings di layar gawai. Menyadari adanya efek jangkar ini adalah langkah pertama yang krusial untuk melepaskan diri darinya. Jadi, teman-teman, saat esok hari kita melihat saham yang harganya hancur lebur dari puncaknya, mari kita tarik napas panjang. Mari kita cabut paksa jangkar itu dari kepala kita. Bertanyalah secara kritis dan jujur: "Berapa nilai perusahaan ini sekarang jika saya tidak pernah tahu harga masa lalunya?" Karena pada akhirnya, pasar saham tidak pernah peduli dengan nostalgia masa lalu. Ia hanya peduli dengan realitas hari ini dan potensi masa depan. Tugas kita adalah memastikan kapal finansial kita tidak karam hanya karena tersangkut oleh sebuah jangkar ilusi.